Sejarah Islam Kota Sibolga

newzealandlandscape10

Sejarah perniagaan komunitas Hutagalung tidak terlepas dari sejarah perkembangan peradaban Batak. Walaupun begitu, kiprah mereka baru dapat diketahui pada abad ke-16 M di mana tanah Batak dan Sumatera pada umumnya sedang dilanda booming ekonomi yang menjadi pemicu datangnya para kaum asing yang kemudian menjadi penjajah.

Perkembangan Islam membuat banyak warga Hutagalung yang menganutnya. Kelompok Marga Tanjung di Fansur, marga Pohan di Barus, Batu Bara di Sorkam kiri, Pasaribu di Sorkam Kanan, Hutagalung di Teluk Sibolga, Daulay di Sing Kwang merupakan komunitas Islam pertama yang menjalankan Islam dengan kaffah. Kota Sibolga sendiri sangat identik dengan komunitas Hutagalung, terbukti dengan penghitungan umur kota tersebut berdasarkan eksistensi marga Hutagalung, melalui silsilah tarombo Hutagalung di Sibolga.

Dalam kurun waktu 1513-1818, komunitas muslim Hutagalung dengan karavan-karavan kuda menjadi komunitas pedagang penting yang menghubungkan Silindung, Humbang Hasundutan dan Pahae dengan Sibolga yang menjadi daerah pesisir tempat keluar masuk komoditas ke tanah Batak selain Barus.

Komoditas yang dibawa dari pedalaman tanah Batak adalah hasil hutan. Sementara komoditas yang mereka bawa ke tanah Batak adalah garam, tekstil, perhiasan dan aksesoris dll. Pada permulaan abad ke-12, seorang ahli geografi Arab, Idrisi, memberitakan mengenai ekport kapur di Sumatera (Marschall 1968:72). Kapur bahasa latinnya adalah camphora produk dari sebuah pohon yang bernama latin dryobalanops aromatica gaertn. Orang Batak yang menjadi produsen kapur menyebutnya hapur atau todung atau haboruan.

Beberapa istilah asing mengenai Sumatera adalah al-Kafur al-Fansuri dengan istilah latin Canfora di Fanfur atau Hapur Barus dalam bahasa Batak dikenal sebagai produk terbaik di dunia (Drakard 1990:4) dan produk lain adalah Benzoin dengan bahasa latinnya Styrax benzoin. Semua ini adalah produk-produk di Sumatera Barat Laut dimana penduduk aselinya dalah orang-orang Pakpak dan Toba.

Para pedagang Hutagalung ini aktif menghadiri onan-onan yang menjadi pusat-pusat transaksi perdagangan di tanah Batak. Di setiap onan mereka mempunyai toko-toko untuk distribusi barang-barang sekaligus tempat pengumpul hasil hutan dari para petani. Alhasil pedagang Hutagalung menjadi makmur dengan tanah dan bangunan yang tersebar di mana-mana. Kelompok konglomerat Batak terbentuk melalui komunitas ini.

Untuk dapat dibayangkan dalam buku yang ditulis Colonel Hendry Yule, The Book of Sir Marco Polo The Venetian, hal 285 s/d 287, London 1875, tercatat bahwa antara tahun 1839 sampai tahun 1844 ekspor tahunan kapur barus dan sago dari negeri Barus (dan pesisir) langsung ke negeri Cina rata-rata 400 kg pertahun.

Harga yang dicatat Randot tahun 1848, kamfer keluaran negeri Cina kualitas nomor satu seharga 20 dolar per pikul. Kamfer keluaran Jepang 30 dolar per pikul. Kamfer Artemisia (Cina-ngai) harga per pikul 250 dolar. Sementara kamfer dengan nama “baroes” kualitas nomor satu mencapai harga 2000 dolar perpikul. Sementara kamfer baroes kualitas kedua harganya 1000 dolar per pikul. Secara umum kapur dari sumatera dinamakan camphor ping pien atau icicle flakes dan lungmau dragon brain.

Selain getahnya, pohon kayu kamfer juga sangat banyak manfaatnya. Antara lain minyak umbil untuk obat dan parfum. Pohon ini masuk nominasi nomor satu dalam ukuran mutu kayu gelondongan. Batangan kamfer sangat keras, tangguh dan terutama anti rayap.

Di samping komoditas ini, komoditas dari tanah Batak adalah damar, karet, getah jelutung, minyak nilam, minyak koring, meranti, sitorngom. Barang tambang seperti, emas, perak, timah dan batu bara.

Semuanya menyatu di onan-onan bersama hasil buah seperti, buah barangan, jeruk, jantikan, kare, kemiri, rambe, langsek ai-ai, durian, petai, jambu bol merah, jambu bol putih, duku atau laccat, sukun, kelawi, rambutan, manggis, sawo manila, kweni, mempelam, mangga salak dll. Hasil laut yang terdiri dari berjenis ikan, penyu, sadurei, karang badarah, kimo, rambu-rambu, kombalameh, lolak, lokan, udang dll. Hewan yang langka dan laku dijual adalah gajah, badak, kerbau, kambing, rusa, kancil, pelanduk, biawak, buaya, ular, harimau, kera, siamang, beruang, punai, bakuk, murai, salindik, tupai, elang, camar, balam, ikan leilan, gamak, lampung, garing lintih dll.

Kepiawaian marga Hutagalung dalam berdagang semestinya mendapat ucapan terima kasih dari orang-orang Batak kala itu. Tanpa mereka, huta-huta orang Batak yang berpencar-pencar dan terisolir di pedalaman hutan tidak akan dapat bertahan hidup tanpa supplai komoditas ekonomi ini. Praktis komunitas pedagang Hutagalung memonopoli arus keluar masuk komoditas ekonomi bersama kelompok marga Marpaung, Siopatpusoran dan Nasution.

Pada tahun 921H atau tahun 1514 M didirikan mesjid syiah di kampung Hutagalung, Horian di Silindung. Komunitas Hutagalung yang menguasai alur perdagangan di teluk Sibolga, sampai ke daerah Silindung, Humbang dan Pahae ini, mendirikan banyak mesjid di Silindung. Diyakini syiah berkembang lebih pesat daripada mazhab-mazhab mainstream Indonesia dan menjadi kepercayaan kebanyakakn marga Hutagalung yang dipengaruhi oleh paham tasawwuf syattariah dan ajaran-ajaran yang menyerupai syiah.

1285 M

Mulai masuk ajaran Islam syafii di Sumatera khususnya wilayah sekitar Pasai. Hal ini diakibatkan suksesi kepemimpinan di Mesir, dari Dinasti Fathimiyah lalu Ayyubiyah dan Dinasti Mamluk. Dinasti Mamluk mulai mengirim utusan dagang mereka ke wilayah ini yang mengakibatkan penyebaran ajaran syafii. Di Barus, tanah Batak pesisir, mazhab syafii banyak dianut oleh orang-orang Batak di Singkel, yang sekarang masuk dalam provinsi Aceh.

Pada tahun 1411 M, mazhab hanafi mulai dikenal penduduk Batak akibat interaksi dengan pedagang-pedagang Cina dengan orang-orang Batak di Singkuang, Perdagangan dan sepanjang sungai Bah Bolon.

Di daerah Natal, 1412 M, tanah Batak Selatan, ajaran mazhab Maliki mulai dikembangkan oleh seorang tokoh intelektual dan pedagang dari Maroko yang dikenal oleh penduduk setempat dengan Tuan Syeikh Magribi. Dalam perkembangan berikutnya, dia berdakwah ke Gresik dan meninggal di sana pada tahun 1419 dan dikenang dengan nama Maulana Malik Ibrahim salah satu sunan dalam walisongo yang dihormati di pulau Jawa.

Perkembangan Islam di tanah Batak tidak saja mencakup mazhab-mazhan besar dalam Islam. Di Fansur, sebuah wilayah di Kesultanan Barus, tanah Batak pesisir, golongan teolog khawarij dengan mazhab fiqih ibadiyah mulai berkembang. Faham ini dikembangkan dari Zanzibar, Afrika oleh intelektual lokal Abdulrauf Fansuri. Pada tahun 1601 M dalam rangka monopoli ekonomi dan pensucian agama, pihak Kesultanan Aceh menginvasi Kesultanan Barus dan melarang berkembangnya ajaran ini. Abdulrauf merupakan tokoh intelektual saat itu yang mempunyai pemikiran politik khususnya dalam tata negara; Sultan Amir al-Mukminin harus dipilih dan dapat diturunkan oleh rakyat. Pendapat ini ditentang oleh Aceh.

Tiga tokoh intelektual Batak saat itu adalah Abdulrauf Fansuri yang bermazhab khawarij dengan fiqih ibadiyah. Yang lain adalah Abdulrauf Singkily yang bermazhab syafii dan Hamzah Fansuri yang bermazhab syiah al-muntazar.

Seorang tokoh Hutagalung yang terkenal dan terdokumentasi, adalah Amir Hussin Hutagalung, bergelar Tuanku Saman lahir 1819 dan meninggal tahun 1837, yang semasa dengan Tuanku Rao; Faqih Amiruddin. Ayah dari Tuanku Saman adalah Kulipah Abdul Karim Hutagalung yang menjadi imam besar mesjid di Silindung. Namun pada tahap ini komunitas Hutagalung mulai meninggalkan praktek syiah dan beralih ke sunni seiring dengan redupnya pengaruh syiah di Indonesia. Alasan lainnya adalah mereka juga terimbas dari praktek pemurnian agama yang dibawa oleh kelompok Padri Batak.

Sebagai masyarakat pedagang yang menguasai jalur-jalur penting perdagangan di tanah Batak, komunitas Hutagalung juga dikenal sebagai komunitas maritim yang menguasai jalur pelayaran di pusat-pusat perekonomian nusantara kala itu. Mulai dari Sibolga, Malaka dan Riau.

Tokoh maritim Hutagalung yang dikenal adalah Abdullah Salatar Hutagalung. Abdullah Salatar inilah yang membantu migrasi orang-orang Batak ke Malaysia yang ingin merantau di abad ke-19. Diantaranya adalah Hussein Nasution, seorang tokoh Nasution yang berhasil menjadi elit bangsawan di Malaysia.

Di Sibolga Hussein Nasution anak dari Idris Nasutioan berhasil menjadi anak buah sebuah armada kapal layar perniagaan milik seorang nakhoda bernama Abdullah Salatar Hutagalung, seorang nakhoda muslim Batak Toba yang sering melakukan misi perdagangan ke Malaysia dan Riau.

Di sana Hussein Nasution bergabung dengan komunitas saudagar Minang dan Mandailing yang telah lama bermukim dan menjadi penduduk setempat. Sanking banyaknya orang Mandailing dan Minang di sana proses merantau tersebut sampai mempunyai nama tersendiri yakni ‘Pai Kolang’ yang berarti “Migration to Kolang”. Dari tahun 1833-1871, Hussein menapaki hidupnya di Kelang yang semula masih termasuk Kerajaan Negeri Sembilan.

Pada tahun 1873, dalam sebuah praktek diskriminasi dan intoleransi agama, mesjid-mesjid marga Hutagalung di Tarutung, Silindung, diruntuhkan oleh penjajah Belanda. Haji-haji dan orang-orang Islam, kebanyakan dari marga Hutagalung, diusir dari tanah leluhur dan pusaka mereka di Lembah Silindung. Belanda melakukan pembersihan etnis, terhadap muslim Batak.

Paska kemerdekaan, marga Hutagalung mulai aktif berkiprah di pentas nasional. Beberapa diantaranya mulai membangun kampung halamannya. Pada 02/11/2006 Irjen Pol (Purn) H MB Hutagalung dan Kepala Biro Umum Kementrian BUMN Drs. Mantaris Siagian yang termasuk dalam keluarga besar Amir Mirza Hutagalung, memberikan sumbangan 300 juta rupiah untuk pembangunan mesjid Simangumban di Desa Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara.

Amir Mirza Hutagalung, mewakili keluarga besar Yayasan Pesantren H. Sutan Oloan Hutagalung dan Yayasan Marsipature mengatakan pihaknya siap melakukan renovasi mesjid yang berkapasitas 300 orang. “Ini merupakan nazar seluruh keluarga, mudah-mudahan menjadi amal ibadah dan kita mendapatan berkah dan semakin dekat kepada Tuhan.” (Batak Pos)

dari sini

About senyumislam

senyum

Posted on Februari 18, 2013, in Perkembangan Islam, Sejarah Islam. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: