Menyemai Akidah di Gunung Kidul

ilustrasi

ilustrasi

DUSUN itu terletak pas di atas bukit. Mencapainya, harus melewati jalan menanjak. Motorpun harus melaju dengan gigi satu. Suaranya akan terkentut-kentut. Di kanan kiri jalan batu-batu cadas yang di sela-selanya terselip pohon jati yang kurus dan agak gundul. Tepat di atas jalan itu, terdapat masjid Al Muttaqin. Bentuknya cukup indah. Masjid itu bantuan dari seorang dermawan dari Timur Tengah.

Terdengar suara lantunan sholawat Nabi dari corong masjid. Suaranya lamat-lamat terdengar menembus bukit yang cukup gersang itu. Puluhan ibu-ibu berkumpul di teras masjid untuk mendengarkan ceramah dari Saiful Prihatin, dai spesialis Gunung Kidul. Mereka mengenakan kerudung dengan al Quran di tangan. Mereka pun langsung membentuk lingkaran ketika Saiful datang dan langsung mendengarkan ceramah lelaki asli kelahiran Gunung Kidul Yogyakarta.

“Ibu-ibu yang dirahmati Allah, opo tujuan urip nang dunyo iku?” tanya Saiful memancing jamaah agar berfikir.

Jawaban pun beragam. Ada yang bilang untuk makan, hidup yang hidup, dan ada juga yang menjawab hidup itu untuk beribadah kepada Allah.

“Urip iku kanggo nyembah Gusti Allah (hidup hanya untuk beribadah pada Allah, red),” ujar salah seorang jamaah.

Pertanyaan ringan itu sengaja dilontarkan Saiful. Ia selalu menggunakan bahasa Jawa halus. Sebab, mayoritas jamaah yang tergolong ibu-ibu sepuh tidak paham bahasa Indonesia.

Menurutnya, pertanyaan sederhana itu cukup efektif. Tak sedikit jamaah yang tersadar dengan pertanyaan tersebut. Sebab, katanya, masih banyak orang terutama di pelosok desa yang belum paham tujuan hidup.

“Mereka memaknai hidup masih sebatas dapur, kasur, dan sumur,” terangnya.

Jika telah mendengar penjelasan Saiful, jamaah hanya diam dan manggut-manggut. Setelah memberikan ceramah, biasanya dai yang tergolong masih muda dan energik ini akan mengajarkan membaca al Quran. Ia ingin ibu-ibu di dusunya itu bisa membaca al Quran.

Daerah ini terletak di Dusun Guo Kembang, Desa Mbotodayaan, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul DIY. Gunung Kidul terkenal gersang, terlebih di musim kemarau. Selain panas juga sulit air. Tidak semua jenis tanaman cocok dan bisa ditanam di sini.

Mayoritas penduduk di daerah ini mengandalkan padi, ketela, kentang dan jagung. Namun, karena tingkat kesuburannya kurang, hasilnya tidak begitu memuaskan.

“Boleh dibilang ekonomi masyarakat di sini cukup memperihatinkan. Bahkan, warga di sini masih ada yang makan gaplek, singkong yang dikeringkan,” ujar Parman, Takmir Masjid Al Mutaqin kepada hidayatullah.com di kediamannya beberapa waktu lalu.

Sulitnya ekonomi dan air membuat masyarakat kerap diiming-imingi oleh misionaris untuk masuk Kristen dengan dalih sosial dan ekonomi. Hal itulah yang menjadi perhatian Saiful untuk membentengi masyarakat dari gempuran kristenisasi dengan menyemai aqidah masyarakat di dusunya.

“Cita-citaku ingin meng-al Qura’an-kan masyarakat Gunung Kidul,” ujarnya.

Karena itu, langkah dakwah suami Sunarti yang juga penduduk asli Dusun Mujing dan salah satu putri tokoh setempat ini selain mendirikan majelis taklim ibu-ibu dan bapak-bapak juga mendirikan Taman Pendidikan al Quran (TPA) di beberapa tempat. Paling tidak, satu dusun dua TPA. Dan kini, atas izin Allah, ia telah berhasil mendirikan beberapa TPA di sejumlah dusun.

“Alhamdulillah, respon masyarakat cukup bagus. Saya berniat dari Desa Mbotodayaan yang memiliki 12 dusun ini semuanya memiliki TPA,” harapnya.

Diakui Saiful, tidak mudah merintis TPA. Terlebih di dusun yang agamanya masih minim. Perlu memahamkan kepada masyarakat, terutama para sesupuhnya agar mengizinkan pendirian TPA. Sebelum mendirikan TPA, ia pun selalu mendekati sesepuh daerah setempat. Baru setelah mendapat lampu hijau ia mengajak anak-anak untuk diajari ngaji.

Awalnya, ia sendiri yang mengajari mereka al Quran. Dengan sepeda motor, ia berkeliling dari satu dusun ke dusun yang lain. Namun, jika ia telah berhasil mendidik salah satu muridnya yang bisa mengaji, ia akan mendelegasikannya untuk menggantikannya. Saiful hanya sesekali datang dan mengontrol.

Meski medan dakwah yang begitu terjal, namun ia tidak patah semangat. Katanya, tidak sedikit dai dari luar yang angkat kaki karena tidak betah dengan kondisi alamnya. Mungkin, karena ia asli warga setempat, jadi sudah beradaptasi.

“Alhamdulillah, untuk kondisi medan tidak ada masalah,” ujar Saiful yang juga salah satu pengurus Hidayatullah bagian Gunung Kidul.

Ketua Pos Dai Hidayatullah bagian DIY, ustadz Ma’arif mengakui hal itu. Tidak banyak dai yang diutus ke Gunung Kidul mampu bertahan lama. Kebanyakan masalah kontur alamnya. Karena itu, ia memanfaatkan dai warga setempat untuk berdakwah.

“Jika warga setempat akan lebih mudah beradaptasi dan diterima masyarakat sekitar,” tuturnya.

Jalan panjang dakwah

Sebelum basah dalam dakwah di Gunung Kidul, Saiful sempat mengadu nasib ke ibu kota. Seperti kebanyakan orang, ia ingin meperbaiki nasib ekonomi. Selepas lulus dari pesantren, ia bekerja di salah satu perusahaan percetakaan di Jakarta. Namun, karena kondisi Jakarta yang menurutnya tidak sehat, ia pun memutuskan untuk kembali.

Sebelum ke Jakarta, lelaki berkulit sawo matang ini sempat mendirikan TPA di Gunung Kidul. Berhasil. Muridnya banyak dan sebagian telah lancar membaca al Quran. Namun, mungkin karena tergiur mimpi-mimpi ibu kota, ia pun tetap meninggalkannya.

“Saya ketika memutuskan itu sempat nangis. Keputusan yang sangat berat. Namun bagaimana lagi, saya harus mengambilnya,” ujarnya.

Naluri sebagai seorang dai tetap terpatri di hatinya. Bayangan akan murid-muridnya mengaji kerap berkelebat di pelupuknya. Karena tidak mendapatkan apa yang ia harapkan di Jakarta, akhirnya ia kembali dan meneruskan TPA-nya. Di Kota Gudek, ia kembali bekerja sebagai Cleaning Service di Stasiun Tugu Yogyakarta. Ia pun ngekost. Lagi-lagi, di sela-sela kesibukannya itu, ia mendirikan TPA bagi anak-anak sekitar kost-nya.

“Saya ajak mereka ngaji tanpa dipungut biaya sesenpun,” terangnya.

Tak lama kemudian, Saiful bertemu ustadz Salim Sukamto, salah satu pengurus Pesantren Hidayatullah Solo. Ia pun diajak berdakwah di Gunung Kidul secara total. Saiful pun setuju dan merasa cocok dengan konsep dakwah Hidayatullah. Ia pun diamanahi untuk memegang bendera dakwah di Gunung Kidul hingga kini.*

dari sini

About senyumislam

senyum

Posted on Desember 28, 2012, in Kisah Islami, Perkembangan Islam and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. U N R E G . . . . . ! ! !

  2. Selamat, semoga QAkhi Saiful Priatin tetap istiqomah jadi juru dakwah di Gunung Kidul, dan semakin bertambah Ustadz dan Santrinya. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: