Lebaran Bersama Cina Benteng Tangerang

PAGI itu, Selasa (20/2) langit tampak mendung. Gumpalan awan kelabu
bergulung-gulung. Guyuran hujan seakan-akan tak dapat lagi dibendung.
Namun, ribuan umat Islam tampak tetap melangkah berduyun-duyun menuju
Lapangan Achmad Yani, yang terletak di Kotamadya Tangerang, untuk
melaksanakan shalat Ied.

Di antara mereka, tampak pula pria wanita, bermata sipit, yang di
kalangan masyarakat Tangerang dikenal sebagai Cina Benteng, atau warga
Negara Indonesia keturunan Cina. Mereka adalah sebagian dari kalangan
Muslim Tionghoa, yang memeluk agama Islam sejak bertahun-tahun silam.
Mereka tampak membaur bersama umat Islam lainnya.

Demikian pula saat shalat Ied berlangsung. Kalangan Cina Benteng
tersebut tak lagi kentara. Dengan khusuk dan penuh khidmat, mereka
bersama para jemaah lainnya, mendengungkan asma Allah. Kemudian,
mengikuti shalat Ied, yang dimulai pukul 07.00 WIB, dan mendengarkan
khutbah hingga selesai.

Langit mendung pagi itu tidak menjadi soal bagi mereka. Di atas
mimbar, khotib tampak memuji kebesaran Allah, sebagai pertanda
kemenangan setelah berpuasa selama 29 hari pada bulan suci Ramadhan,
untuk melawan hawa nafsu.

Yang lebih menarik perhatian, usai shalat Ied tersebut, tampak sifat
kebersamaan sesama umat Islam, tanpa membedakan suku atau golongan.

Seperti Haji Oslan Kencana, salah seorang dari Cina Benteng tersebut.

Oslan, demikian panggilan akrab Oslan Kencana, termasuk tokoh Cina
Benteng generasi pertama yang memeluk agama Islam. Sebelumnya,
pengusaha sukses itu menganut agama Budha, sesuai dengan kepercayaan
nenek moyangnya. Jejak Oslan — yang kemudian melakukan syiar Islam —
lantas disusul rekan-rekannya yang lain, sesama Cina Benteng, yakni
memeluk agama Islam. Kini, jumlah mereka yang memeluk agama Islam
sekitar 3.000 jiwa, dari sekitar 500.000 warga Cina Benteng penduduk
Tangerang.

Oslan bersama keluarganya, meski agak asing bagi orang baru di
Tangerang, tapi justru kehadiran mereka di tengah-tengah umat Islam
pribumi menarik perhatian. “Minal aidin wal fa’idzin, mohon maaf lahir
dan batin,” kata Oslan kepada pria tua di sampingnya, seusai
sembahyang Ied, sambil menyodorkan kedua belah tangannya untuk
bersalaman. Pria tersebut lalu menjawab dengan ucapan yang sama:
“Minal aidin wal fa’idzin, mohon maaf lahir dan batin.”

Keakraban antara Oslan selaku WNI keturunan Cina dan pria tua pribumi
tersebut patut dijadikan contoh pergaulan sehari-hari dalam
meningkatkan proses naturalisasi, pembauran antara orang-orang Cina
dan pribumi Inodnesia. Sebab, bila dibandingkan dengan kebiasaan
pergaulan sehari-hari WNI keturunan Cina dengan pribumi lainnya,
sebagian besar selalu ditemukan gap. “Karena itu, lewat agama, lebih
mudah menyukseskan program naturalisasi,” ujar Oslan.

Saling bermaaf-maafan tidak hanya dilakukan Oslan di Lapangan Achmad
Yani. Rupanya, tokoh muslim Cina Benteng itu sudah cukup banyak
dikenal dalam kalangan Islam di Tangerang. Sebab, warga Jl STM No 193
Kota Tangerang, itu, juga dikenal sebagai dermawan. Anak-anak yatim
piatu, orang-orang jompo, dan orang tak mampu, tidak luput dari
perhatiannya. Secara rutin, setiap Hari Raya Idul Fitri, Oslan
menyantuni kalangan fakir miskin tersebut.

Sejumlah yayasan tempat penampungan anak-anak yatim piatu, orang
jompo, dan orang tak mampu, didatanginya untuk menyerahkan santunan,
baik berupa uang maupun pakaian. “Pak haji datang…Pak Haji datang,”
teriak anak-anak yatim piatu di sebuah yayasan di Tangerang, menyambut
Oslan. Semua anak-anak menyalaminya, dan mencium tangan Oslan, sambil
mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Oslan pun memeluk anak-anak yatim piatu dengan akrab. Keakraban ini
tidak mengherankan. Oslan telah menyantuni kalangan yatim piatu sejak
puluhan tahun lalu. Nurhayati, salah seorang dari anak yatim piatu,
tidak kuasa menahan rasa sedihnya. Kedua bola matanya nampak
berkaca-kaca, disusul air matanya menetes membasahi pipinya. Maklum,
orangtua Nurhayati sudah meninggal sejak beberapa tahun lalu, sehingga
tidak dapat menikmati kasih sayang seperti yang diberikan Oslan, yang
dipanggil Engkong oleh anak-anak yatim piatu itu.

Ternyata, peluk cium dan salam dari para anak-anak yatim piatu,
merupakan kepuasan batin dan kebahagiaan tersendiri bagi Oslan.
Apalagi saat meninggalkan pesantren tempat para anak yatim piatu itu,
Oslan tidak kuasa menahan air matanya, setelah menyaksikan anak-anak
yang juga menangis saat ditinggalkan. “Selama ini saya
benar-benarmemiliki keterikatan batin dengan mereka,” tandasnya, dalam
nada serius.

Di rumah Oslan, ternyata sudah banyak orang menunggu, baik keluarganya
sendiri maupun para tetangga dan kerabatnya. Pembauran keluarga
pengurus DPD Golkar Tangerang itu dengan pribumi tidak diragukan lagi.
Buktinya, menantu Oslan, termasuk dari anak angkatnya, terdiri atas
beberapa suku termasuk Jawa dan Sunda.

Karena itulah, setiap Lebaran rumah Oslan cukup ramai dikunjungi,
tidak hanya muslim WNI keturunan Cina, tapi juga pribumi. Mereka
saling bersalaman dan saling mohon dimaafkan, dari orang muda kepada
yang lebih tua. Setelah itu mereka makan kue bersama, yang telah
disiapkan Ny Oslan. Tampak kesan kuat bahwa dalam keluarga Oslan tidak
terlihat gap antara pribumi dan non pribumi.

Situasi Lebaran di rumah Oslan, tidak jauh berbeda dengan di tempat
tinggal Abdul Rachman Hakim, seorang generasi muda muslim WNI
keturunan Cina Benteng. Para umat Islam yang datang ke rumahnya tidak
hanya para tetangga, tapi juga dari desa-desa di Kabupaten Tangerang.
Kedatangan warga desa, khususnya Cina Benteng yang telah memeluk agama
Islam, ke rumah Rachman wajar.

Sebab, dia tokoh generasi muda berusia 40-an tahun telah dipercaya
memegang jabatan yaitu Ketua DPP Bidang Pemuda dan Olah Raga merangkap
Ketua DPC Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) Tangerang. PITI adalah
organisasi orang Cina yang memeluk agama Islam. “Setelah memegang
jabatan itu sejak 1987, sudah 300 orang Cina Benteng masuk agama
Islam,” kata Rachman kepada Media di rumahnya.

Rachman seusai shalat Ied, berdiri di depan pintu rumahnya menyambut
kedatangan para tamu yang memberikan salam dan saling meminta maaf.
Minal aidin wal fa’idzin, mohon maaf lahir dan batin. Kata-kata ini
diucapkan para tamu dan disambut Rachman bersama istri. Saling
memaafkan antara mereka sambil bersalaman menciptakan suasana Hari
Raya Idul Fitri di rumah seorang muslim Tionghoa tidak kalah
khidmatnya bila dibandingkan dengan rumah pribumi tetangganya.

Semua tamu Rachman duduk di sofa, dan istrinya buru-buru ke dapur
untuk menyajikan kue Lebaran. Sambil ngobrol soal puasa yang telah
dilalui dengan melawan hawa nafsu, mereka makan kacang, kue, dan
minuman limun. Sekitar 15 menit kemudian, para tamu tersebut pulang.
Tapi, para tamu lainnya datang kembali. Dan, Rachman pun menyambut
dengan kalimat yang sama: “Minal aidin wal fa’idzin, maaf lahir dan
batin.”

[.] [Selamat Saragih]/D-2

dari sini

About senyumislam

senyum

Posted on Desember 20, 2012, in Khazanah, Kisah Islami and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Saya seorang putra Marica Alor Kalabahi yang tentu sangat bangga dengan sebuah usaha yang luar biasa ini sebab tanpa usaha seperti ini kita khususnya wilayah Timur di anggap sebagai daerah terbelakang dari segala bidang tetapi dengan kreatifitas-kreatifitas seperti ini sangant membantu mengenalkan diri kita pada dunia nasional maupun dunia internasional

  2. Assalamualaikum,
    Saya seorang muslimah, dan kekasih saya adalah seorang Budhist yang sudah lama belajar Islam dan ingin tau Islam dan hakikat tauhid namun tidak ada rekan diskusi (mengingat beliau warga negara asing). Mohon informasi dan bantuan sekiranya saya bisa terhubung dengan komunitas ini
    dan dibantu dengan kondisi ini.Kontak saya via email: 085731207312.

  3. ASSALAMU ALAIKUM WR.WB islam adalah agama untuk seluruq umat manusia tanpa membedakan suku.etnis.ras dan bangsa karna nilai manusia di hadapan allah swt adalah iman dantakwa islam adalah agama yg menjujung ahlak mulia dan budi pekerti yg luhur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: