Keteladanan Ulama Salafy : Syaikh Al-Albany rahimahullah

ASY-SYAIKH MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI RAHIMAHULLAH (1332 – 1420 H)

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani lahir di kota Ashkodera, ibukota Albania pada tahun 1332 H (1911), dalam sebuah keluarga yang miskin. Ayahnya, Al­-Haj Nuh Najjati Al-Albani adalah seorang lulusan sekolah Syariah di Istambul dan ketika kembali ke Albania beliau dijadikan ulama. Ketika Albania dikuasai oleh pemerintahan yang berideologi atheis, keluarga Asy-Syaikh Al-Albani hijrah ke Damaskus. Asy-Syaikh Al-Albani berhasil menyelesaikan pendidikan dasarnya di Damaskus. Beliau kemudian mem­pelajari Al-Quran, ilmu tajwid, Bahasa Arab, fikih madzhab Hanafi, dan berbagai cabang ilmu lain kepada sejumlah ulama dan teman-teman ayahnya.

Asy-Syaikh Al-Albani juga mempelajari keterampilan membuat jam dan mereparasi. Bahkan beliau kemudian dikenal sebagai ahli di bidang ini dan dijadikan sebagai ladang untuk mencari nafkah. Asy-Syaikh Al-Albani mulai menjadi seorang yang ahli di bidang ilmu hadits sejak berumur 20 tahun setelah terpengaruh oleh sebuah artikel di majalah Al­Manar.

Karya beliau dalam bidang ilmu hadits dimulai ketika beliau membuat catatan terhadap kitab karya Al-Hafidz Al-Iraqi berjudul AI-Mughni ‘An-Hamlil Asfar fil Asfar fi Tahkrij ma fil Ihya minal Akbar.
Asy-Syaikh Al-Albani terus melakukan penelitian terhadap ilmu hadits dan cabang-cabangnya meskipun tidak mendapat dukungan dari ayahnya. Lebih jauh bahkan beliau tidak lagi mendapatkan kitab-kitab yang beliau perlukan di perpusta­kaan ayahnya yang mayoritas koleksinya adalah kitab-kitab bermadzhab Hanafi. Sejak saat itu, Asy-Syaikh AI-Albani ber­usaha mencari kitab-kitab yang dibutuhkan di perpustakaan besar di kota Damaskus, Al-Maktabah Adh-Dhahiriyyah dan kadang-kadang beliau harus membeli di penjual kitab.

Asy-Syaikh Al-Albani sangat tertarik dengan ilmu hadits. Akibatnya beliau sering menutup tokonya dan tinggal di per­pustakaan dalam waktu sampai dua belas jam. Beliau berhenti dari aktivitasnya itu hanya untuk shalat, bahkan untuk makan pun beliau tinggalkan dan sebagai gantinya beliau hanya mengkonsumsi dua potong makanan ringan.

Akhirnya pihak perpustakaan memberi ruang tersendiri kepada Asy-Syaikh Al-Albani beserta kuncinya sehingga beliau bisa memasukinya sebelum jam buka. Terkadang beliau memulai aktivitasnya pagi-pagi sekali dan baru berakhir setelah Isya. Selama masa ini beliau telah menghasilkan sejumlah karya, beberapa diantaranya siap untuk diterbitkan.

Asy-Syaikh Al-Albani banyak menghadapi tantangan dalam usahanya menyebarkan dakwah kepada Tauhid dan Sunnah, namun itu semua beliau hadapi dengan penuh kesa­baran. Beberapa ulama Damaskus memberikan dorongan kepada beliau agar tetap meneruskan usahanya, diantaranya adalah Asy-Syaikh Bahjatul Baijar, Asy-Syaikh Abdul Fatah dan Asy-Syaikh Taufiq Al-Barzah rahimahumullah.

Setelah beberapa lama, Asy-Syaikh Al-Albani mulai memberikan kajian rutin dua kali seminggu yang dihadiri oleh sejumlah pelajar dan dosen. Beliau ajarkan kitab-kitab aqidah, fikih, ushul fikih, dan hadits. Beliau juga mulai mengorganisasi sebuah perjalanan dakwah ke beberapa kota di Siria dan Yordania.

Setelah sejumlah kitab karya Asy-Syaikh Al-Albani dicetak, beliau kemudian diangkat untuk menjadi pengajar di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia, untuk waktu tiga tahun dari tahun 1381 sampai 1383 H. Beliau juga diangkat menjadi dewan pengurus Universitas.

Setelah itu Asy-Syaikh Al-Albani kembali menekuni aktivitas lamanya di Al-Maktabah Adh-Dhahiriyyah dan menyerahkan tokonya kepada saudara laki-laki beliau. Beliau banyak melakukan perjalanan ke luar negeri untuk dakwah, diantaranya Qatar, Mesir, Kuwait, Emirat Arab, Spanyol, dan Inggris. Beliau beberapa kali dipaksa melakukan migrasi, diantaranya dari Siria ke Yordania, kemudian ke Siria lagi, ke Beirut, ke Emirat Arab, dan kembali ke Yordania (Amman). Karya beliau di bidang ilmu hadits mencapai lebih dari 100 buah.

Asy-Syaikh Al-Albani memiliki sejumlah murid, diantara-nya Asy-Syaikh Hamdi Abdul Majid, Asy-Syaikh Muhammad ‘led Abbasi, Dr. Sulaiman Al-Asyqar, Asy-Syaikh Muhammad Ibrahim Syaqrah, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi, Asy-Syaikh Ali Khusyan, Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Asy-Syaikh Abdurrahman Abdusshammad, dan ratusan murid beliau lainnya.
Asy-Syaikh Al-Albani meninggal pada hari Sabtu, 22 Jumadits Tsani 1420 H (2 Oktober 1999) dalam usia 87 tahun. Semoga Allah merahmati beliau.

KETELADANAN DARI ASY-SYAIKH AL-ALBANI

Memanfaatkan Waktu Sebaik Mungkin

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berkata, “Saya dulu membeli sebidang tanah yang harganya murah dan kemudian saya membangun rumah dan toko di atasnya. Karena hal ini, maka jarak antara rumahku dengan perpustakaan Dzahiriyyah menjadi lebih jauh. Waktu itu saya bekerja sebagai tukang reparasi arloji.
Saya kemudian membeli sebuah sepeda. Dan merupakan kejadian yang pertama kali (bagi masyarakat di daerah saya) melihat sebuah pemandangan dimana seorang Syaikh yang di kepalanya mengenakan surban mengendarai sebuah sepeda! Mereka pun menjadi sangat heran. Waktu itu ada sebuah majalah yang dikelola orang kristen bernama Al-Mudhik Al-Mubki yang memuat kejadian itu dan menyebutnya sebagai pemandangan yang langka (menakjubkan). Saya sama sekali tidak peduli dengan semua itu, karena yang penting bagi saya adalah memanfaatkan waktu sebaik mungkin.”
Safahat Baidha min Hayaat Syaikhuna AI-Albani – halaman 24

Selalu Shalat Dua Rakaat Sampai Imam Naik Mimbar
Dikisahkan oleh Samir bin Amin Az-Zuhairi:
Bila Asy-Syaikh Al-Albani masuk ke masjid di hari Jumat maka beliau akan shalat dua rakaat dan beliau akan mengulangi lagi sampai imam naik ke mimbar.
Muhaddits Al-‘Ashr Muhammad Nashiruddin Al-Albani – halaman 39

Tidak Pernah Meninggalkan Puasa Senin Kamis
Dikisahkan oleh Samir bin Amin Az-Zuhairi:
Sejak saya mengenal Asy-Syaikh Al-Albani, beliau tidak pernah saya dapati meninggalkan puasa Senin dan Kamis sepanjang tahun kecuali beliau sedang safar atau. sakit (dan ini terjadi sebelum saya mengenal beliau).
Muhaddits Al-‘Ashr Muhammad Nashiruddin Al-Albani – halaman 39

Semoga Allah Membaguskan Engkau
Berkaitan dengan betapa tingginya perhatian Asy-Syaikh Al-Albani terhadap kebaikan dan kebenciannya terhadap kemungkaran, Samir bin Amin Az-Zuhairi berkata:
Saat itu saya sedang menemani Asy-Syaikh Al-Albani yang sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit. Kemudian ada seorang dokter (yang mencukur jenggotnya) masuk ke ruangan. Setelah memberi obat kepada Asy-Syaikh Al-Albani, dokter itu berkata, “Doakan saya, wahai Syaikh.” Maka Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata, “Semoga Allah membaguskan engkau sebagaimana Dia telah membaguskan (maksudnya mempercantik) seorang laki-laki.”
Muhaddits Al-‘Ashr Muhammad Nashiruddin Al-Albani -halaman 30
Catatan: Maksud Asy-Syaikh Al-Albani adalah bahwa beliau berdoa kepada Allah agar Dia memberi petunjuk kepada orang tersebut sehingga tidak lagi mencukur jenggotnya (karena itu merupakan kewajiban bagi seorang laki-laki), wallahu alam.

Bertanyalah kepada Nashiruddin Al-Albani
Dalam pertemuan saya yang terakhir dengan Asy-Syaikh Al-Albani, saya menceritakan mimpi saudara saya. Dalam mimpi itu, saudara saya bertemu dengan Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam, maka saudara saya itu bertanya, “Jika saya menemukan kesulitan dalam pelajaran hadits, kepada siapa saya harus bertanya?” Maka Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Bertanyalah kepada Muhammad Nashiruddin Al-Albani.”
Begitu cerita saya selesai, saya melihat Asy-Syaikh Al-Albani menangis, sambil berkali-kali berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau menghisabku untuk apa-apa yang mereka katakan. Jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka kira dan maafkanlah aku untuk apa-apa yang tidak mereka ketahui tentang aku.”
Safahat Baidha min Hayat Syaikhuna Al-Albani – halaman 45

Asy-Syaikh Albani Hapal 100.000 Hadits
Asy-Syaikh ‘Asyish menceritakan sebuah kejadian ketika Asy-Syaikh Al-Albani sedang menjelaskan tingkatan ulama dalam bidang hadits. Beliau berkata:
“Al-Hafidh adalah seseorang yang mampu menghapal hadits sebanyak 100.000 beserta sanad dan matannya.” Asy-Syaikh ‘Asyish kemudian bertanya, “Mungkinkah bagi kami untuk bisa memiliki rasa bangga karena guru kami telah mampu menghapal 100.000 hadits?”

Asy-Syaikh AI-Albani menjawab, “Itu tidak penting bagi kalian…” Asy-Syaikh ‘Asyish berkata, “Tapi Asy-Syaikh, ini juga penting bagi kami.” Asy-Syaikh Al-Albani berkata : “tidak … tidak penting bagi kalian.” Asy-Syaikh ‘Asyish berkata, “Tapi bolehkah kami berkata bahwa guru kami adalah Al-Hafidz?” Asy-Syaikh Al-Albani kemudian terdiam.

Asy-Syaikh’Asyish berkata, “Wahai Syaikh, apakah boleh kami menganggap diamnya anda sebagai sebuah jawaban (yang membenarkan)?” Asy-Syaikh Al-Albani berkata, “Bukankah sudah saya katakan bahwa itu tidak penting bagi kalian?” Asy-Syaikh ‘Asyish berkata, “Wahai Syaikh, menurut kami ini juga penting bagi kami. Jadi, bolehkah kami menafsirkan jawaban anda yang begitu sedikit sebagai sebuah pembenaran?” Asy-Syaikh Al-Albani kembali diam. Asy-Syaikh ‘Asyish mengulang kembali pertanyaannya sampai beberapa kali, sampai akhirnya Asy-Syaikh Al-Albani menjawab,

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya.” (An-Nahl: 53)
Asy-Syaikh ‘Asyish berkata, “Bolehkan kami menganggap ini sebagai jawaban anda?”
Asy-Syaikh Al-Albani berkata, “Ini jawaban yang boleh engkau tafsirkan sebagai pembenaran sekaligus boleh engkau tafsirkan sesuai keinginanmu.”

Asy-Syaikh ‘Asyish menceritakan, “Maka dengan penuh kebahagiaan saya berteriak ‘Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah, Alhamdulillah, sungguh ternyata guru kita telah menghapal 100.000 hadits.” Asy-Syaikh Al-Albani hanya tersenyum, seakan menguatkan apa yang saya katakan.
Asy-Syaikh ‘Asyish berkata, “Dari awal sampai akhir tidak ada jawaban dari Asy-Syaikh Al-Albani yang jelas, dimana ini menunjukkan kerendahan hati beliau yang demikian besar.”
Safahat Baidha min Hayat Syaikhuna AI-Albani – halaman 40

Apakah anda Asy-Syaikh Al-Albani?
Ketika Asy-Syaikh Al-Albani sedang naik mobil, beliau didekati seorang laki-laki kemudian dia bertanya, “Apakah anda Asy-Syaikh Al-Albani?”
Asy-Syaikh Al-Albani kemudian memperlambat mobilnya karena seketika itu beliau menangis. Ketika beliau ditanya mengapa menangis, beliau menjawab, “Menjadi kewajiban setiap orang agar ia berusaha keras untuk dirinya sendiri dan tidak puas dengan apa yang disampaikan orang lain (berupa pujian) kepadanya.”
Muhaddits Al-‘Ashr Muhammad Nashiruddin Al-Albani halaman 40

Asy-Syaikh Al-Albani Menyerahkan Semua Koleksi Perpustakaannya untuk Universitas Islam Madinah
Asy-Syaikh Al-Albani berkata, “Saya wariskan per­pustakaan saya – beserta semua isinya baik itu berupa (buku) cetakan, foto kopian ataupun manuskrip, tulisan tangan saya maupun orang lain – kepada perpustakaan Universitas Islam Madinah. Hal ini disebabkan karena saya tidak bisa melupa­kan kenangan ketika saya menjadi pengajar di sana, yaitu saat-saat berdakwah kepada Allah dan kepada Sunnah Rasul­Nya di atas pemahaman Salafus Shaleh.”
Muhaddits Al-‘Asr Muhammad Nashiruddin AI-Albani -halaman 78

Mimpi Seorang Wanita
Diceritakan, suatu kali ada seorang saudara wanita dari Aljazair menelpon Asy-Syaikh AI-Albani dan berkata, “Wahai Syaikh, saya ingin menyampaikan sebuah berita.” Asy-Syaikh Al-Albani berkata, “Semoga Allah merahmati engkau dengan berita yang baik.” Wanita itu berkata, “Salah seorang saudara wanita kami telah bermimpi dan saya akan menceritakan mimpi itu kepada anda.” Asy-Syaikh Al-Albani berkata, “Semoga dalam mimpi itu ia mendapatkan kebaikan.”

Wanita itu berkata, “Wahai Syaikh, apakah dibenarkan ketika ada seseorang yang menceritakan mimpinya kepada anda kemudian anda berkata: ‘Semoga ia mendapatkan kebaikan dengan mimpinya.’ Apakah hal ini ada Sunnahnya?” Asy-Syaikh Al-Albani menjawab, “Tidak, hal ini bukan dari Sunnah, tapi tidak mengapa mengatakan demikian.”

Wanita itu berkata, “Saudara perempuan ini melihat dirinya di sebuah balkon sedang memandang ke sebuah jalan kecil. Di jalan kecil ini ia melihat Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan penggambaran yang dia ketahui. Kemudian ia melihat aku sedang berdiri di depan Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam dan ia melihat Nabi tersenyum kepadaku dan aku pun tersenyum kepada beliau. Kemudian aku memanggil dia, “Ayo ke sini, gabung dengan kami.”

Ketika datang dia bertanya, “Siapa yang sedang kamu perhatikan?” Aku berkata, “Lihatlah orang yang sedang memandang ke sini.” Maka dia pun melihat Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau tersenyum dan berjalan. Kami kemudian berjalan bersama. Ketika itulah kami melihat Asy-Syaikh Al-Albani berada di jalan yang sama dengan kami. Kami pun memberi salam dan beliau menjawabnya.
Asy-Syaikh AI-Albani bertanya, “Apakah kalian melihat Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam?” Kami menjawab, ”
Ya, kami melihatnya.” Saudara perempuaku bertanya, “Siapa dia?” Aku menjawab, “Beliau adalah Syaiakh Al-Albani.” (selesai)

Wanita yang menelepon Asy-Syaikh Al-Albani berkata, “Aku memohon kepada Allah agar Dia menjadikan berita ini sebagai kebaikan bagi anda wahai Syaikh, sehingga saya ingin menyampaikannya. Insya Allah ini adalah berita baik, bahwa anda adalah seorang ulama yang berjalan di atas Sunnah, insya Allah. Apa tanggapan anda terhadap berita ini, wahai Syaikh?”
Sampai di sini Asy-Syaikh Al-Albani tidak berkata apa-pun, sebaliknya air mata beliau malah mengalir di wajahnya dan beliau pun menangis. Dua orang laki-laki yang sedang bersama beliau kemudian disuruh keluar.
Muhaddits Al-‘Ashr Muhammad Nashiruddin Al-Albani – halaman 40

Kesedihan Asy-Syaikh.Al-Albani atas Meninggalnya Asy-Syaikh bin Baz
Berikut cerita dari Asy-Syaikh Ali saat mengabarkan kematian Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz kepada Asy-Syaikh Al-Albani.
Di hari yang sama dari meninggalnya Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz saya menemui guruku Asy-Syaikh Al-Allammah Al-Muhaddits Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani untuk mengabarkan berita meninggalnya Yang Mulia Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz (semoga Allah meninggikan derajat beliau di sisi-Nya). Saya tidak melihat reaksi apapun kecuali air mata beliau. menetes. Sambil menarik papas panjang, beliau berkata pelan :
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahumma ajurni fi musibati wakhlifni khairan minha…”
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, berilah balasan (yang baik) atas musibah yang menimpa kami dan berilah kami ganti dengan yang lebih baik.”
Mulhaq Al-Ashalah fi Wafat Mujaddid Al-Qarn Wa Muhaddits Al-‘Ashr, 25 Jumadil Akhir 1420 – halaman 3

(Disadur dari buku “Untaian Mutiara Hikmah Ulama Ahlussunnah” halaman 48-57 dengan sedikit perubahan, untuk diposting ulang di blog http://jadisalafy.blogspot.com oleh Abdul Majid Al-Bugisy)

dari sini

About senyumislam

senyum

Posted on September 17, 2012, in Khazanah, Kisah Islami and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Syukron,
    izin copy akh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: