Islam di Sudan dan Senegal

Pendahuluan
Pada penerbitan majalah Amanah No. 43, XVI, Oktober 2003 yang lalu telah dipaparkan tentang ‘Peta Pemeluk Agama di Benua Afrika’, secara singkat dan faktual, dan ternyata banyak membuat kejutan bagi kita semua.

Bagi penulis, sangat menarik untuk menampilkan secara utuh masing-masing negara Afrika, yang sebagian, mayoritas penduduknya beragama Islam, baik ditinjau dari sejarah, politik, ekonomi dan pimpinan nasional mereka.

Di Indonesia, akhir-akhir ini banyak di kenal orang Afrika hitam yang sering mangkal di Tanah Abang, dalam rangka bisnis (legal maupun illegal) atau datang sebagai olahragawan (sepakbola). Mereka kebanyakan berasal dari Nigeria, Kamerun, Ghana, Liberia, atau Senegal.

Oleh karena itu, agar tidak menimbulkan kebosanan, penulis akan menampilkan secara acak, negara-negara Afrika mana saja yang ‘pantas’ ditampilkan dalam penulisan secara berseri (berkelanjutan). Pertama, negara yang penduduknya adalah suku asli Afrika, Kedua, mempunyai nilai sejarah yang kuat dalam penyebaran Islam

Sudan
Sudan adalah negara yang terletak di Afrika tengah bagian timur, berbatasan dengan dengan banyak negara, antara lain Mesir, Libya, Eritrea, Ethiopia, Chad, Repbulik Afrika Tengah, Republik Demokratik Congo, Uganda dan Kenya. Nama lengkap Sudan adalah Jamhouriyah es-Sudan ad-Democratiya, terbagi dalam 26 states, dengan ibukotanya Khartoum. Hari kemerdekaan Sudan adalah 1 Januari (1956) Luas wilayah Sudan adalah 2,505,810 km2, dengan hasil tambang utama petroleum, pertanian: gandum, kacang-kacangan, beras, kopi, gula dan tembakau. Angka pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,1%, sedang inflasi rata-rata 9,2%. Mata uang Sudan adalah ‘Sudanese Dinar (SDD)’. US $ 1,- sama dengan 263.306 SDD.

Sudan memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 1 Januari 1956, pernah mengalami perang sipil selama 10 tahun (1972-1982), dan sejak saat itu, Sudan selalu dikuasai oleh militer. Kudeta silih berganti. Jumlah penduduk Sudan adalah 38.114.160 orang, 70% Muslim (Sunni), Kristen 5% dan Animisme 25%. Bahasa nasional adalah Arab, di samping bahasa lokal: Nubia, Ta Bedawie, serta bahasa Inggris.

Sejak ribuan tahun yang lalu, Sudan diwarnai dengan perebutan kekuasaan, Raja Aksum dari Ethiopia menghancurkan ibukota kerajaan Kush, Meroe. Kota tua ini dibangun oleh raja-raja dari dinasti Mesir (sekitar tahun 4000 SM). Selanjutnya berdiri dua kerajaan baru yaitu Maqurra dan Alwa pada tahun 1500. Maqurra jatuh ke tangan orang-orang Arab bersamaan dengan masuknya Islam ke Sudan. Setelah kerajaan Alwa dihancurkan, akhirnya Sudan dikuasai oleh dinasti Funj hingga tahun 1821. Setelah itu, Sudan dikuasai Turki dan Inggris hingga tahun 1953. Etnik terbesar adalah 52% asli afrika (hitam) dan 39% Arab.

Saat ini, Sudan dipimpin oleh Jendral Umar Hasan Ahmad al-Bashir. Kekuasaan Jendral al-Bashir diperoleh setelah melakukan kudeta tak berdarah atas pemerintahan Ja’fa Numeri pada Juni 1989. Kudeta ini didukung oleh Dr. Hassan Turabi (Ketua Parlemen saat itu dan Ketua Partai Kongres Nasional). Karena besarnya kecurigaan Jendral al-Bashir pada Dr. Hassan Turabi yang besar pengaruhnya terhadap Parlemen maupun rakyat, maka pada Desember 1999, Jendral al-Bashir membubarkan Parlemen dan memecat Dr. Hassan Turabi sebagai Ketua Parlemen. Dan untuk mengamankan kekuasaannya, Jendral al-Bashir meminta dukungan negara-negara Barat, Mesir dan Libya.

Pemberontakan Sudan Selatan
Ganjalan paling berat bagi pemerintah Sudan adalah pemberontakan yang dilakukan Sudan People’s Liberation Army (SPLA) yang dipimpin oleh Dr. John GARANG sejak tahun 1983 (20 tahun). Pemberontakan ini ditengarai karena adanya ketidakpuasan penduduk bagian selatan Sudan yang Kristen dan Animis yang menuntut otonomi terhadap pemerintahan pusat yang dinilai tidak demokratis dan dikendalikan oleh etnis Arab (Muslim). Pergolakan ini mengundang campur tangan dunia internasional, baik PBB maupun Amerika Serikat. Pada galibnya, bila terjadi gejolak atau pemberontakan di suatu negara yang menyangkut komunitas Kristen/Katolik, Barat tidak akan tinggal diam dan selalu ingin ikut campur tangan (ingat masalah Timor Timur)..

Membaca politik internasional yang tidak menguntungkan, Presiden Omar Bashir mengambil langkah-langkah ‘positif’, dan memprakarsai upaya damai sejak tahun 1999, dan secara aktif mengadakan pembicaraan dengan pemimpin pemberontakan SPLA, John Garang. Akhirnya pada Juli 2002 dicapai kesepakatan damai dengan munculnya ‘Machakos Protocol’ yaitu pihak Sudan Selatan (SPLA) diberi hak untuk menyelenggarakan referendum ‘6 tahun’ setelah munculnya perjanjian ini. Puncak perdamaian adalah pada tanggal 2 April 2003, ketika Presiden Kenya, MWAI KIBAKI, mempertemukan Presiden Omar Bashir dengan pemimpin pemberontak SPLA, Dr. John Garang di Kenya.

Senegal
Senegal adalah sebuah negara yang dipercaya sebagai salah satu tempat pertama di Afrika Barat yang dihuni manusia pada 15.000 tahun yang lalu. Luas wilayahnya adalah 196.190 km2, beriklim tropis dan mempunyai tiupan angin sangat kuat. Negara ini berbatasan dengan Mauritania, Mali, Guinea, Guinea Bissau, dan Gambia. Ibukotanya adalah DAKKAR (terkenal dengan rally Paris-Dakkar), dan terbadi dalam 10 regions

Hasil utama Senegal adalah perikanan, fosfat dan bijih besi. Pertumbuhan ekonomi rata-rata per-tahun 5%, income perkapita US$ 1,500 per-tahun, inflasi rata-rata 3% per-tahun. Mata uangnya adalah Communaute Financiere Africaine Francs (XOF), US $1, sama dengan 696.988 XOF.

Jumlah penduduk Senegal sebesar 10,580.307 jiwa, 94% beragama Islam, 5% Kristen dan 1% Animisme. dengan komposisi etnis Wolof 43,3%, Pular 23,8%, Serer 14,7%, selebihnya adalah etnis Jola, Mandika, Soninke, Eropa dan Lebanon.

Senegal memperoleh kemerdekaan dari Perancis pada tanggal 4 April 1960, dengan bentuk pemerintahannya adalah Republik. Presiden pertamanya adalah seorang Katholik, Leopold Sedar Seghor, yang dikenal sebagai Bapak Pejuang Kemerdekaan Afrika.

Senegal menghentak perhatian dunia, khususnya kaum muslimin di Indonesia setelah mereka berhasil mengalahkan Perancis 1 – 0 pada Piala Dunia Korea-Jepang 31 Mei – 30 Juni 2002 yang lalu. Kesebelasan Senegal mengalahkan Perancis pada tanggal 31 Mei 2002 di Seoul dengan goal tunggal oleh Papa Bouba Dioup. Sedangkan pada perempat final mereka dikalahkan Turki 1 – 0 pada tanggal 22 Juni 2002 di Osaka Jepang. El-Haji Diouf, Aliou Cisse dan Henri Camara sangat terkenal saat itu.

Sejarah Islam di Senegal
Sebagaimana telah disinggung, Senegal mempunyai penganut Islam terbesar yaitu 94% dari total penduduk. Bagi kebanyakan orang Indonesia, hal ini pasti dipandang aneh, padahal Islam telah berkembang di Senegal sejak abad XI, hampir sama dengan masuknya Islam di Indonesia, ketika War Jabi, Raja Tekrur masuk Islam . Pada abad XIII, kerajaan Tekrur menjadi bagian dari Imperium Mali. Perkembangan Islam di Senegal mengalami perubahan pesat, ketika aliran Tarekat (sufi) mulai merasuk pada abad XVIII, yaitu dimulai dengan masuknya alirah Qadiriyah. Pada tahun 1820 (abad XIX), Al-Hajj Umat Tall membawa aliran Tijaniyah dan berhasil membentuk kekaisaran yang meliputi wilayah Senegal, Mali dan Guinea. Pada tahun 1887, Syaikh Ahmadou BAMBA mendirikan aliran Mauridiyah. Bila Sudan berpaham Sunni, maka perkembangan Islam di Senegal dimotori oleh aliran tarekat (sufi), yaitu Qadiriyah, Tijaniyah dan Mauridiyah.

Walaupun Islam dianut oleh sebagian besar bangsa Senegal, namun sebagaimana pula di Indonesia, Islam belum dapat diterapkan sebagai dasar negara. Ini terbukti, Pemerintah Senegal masih mengadopsi hukum sipil Perancis sebagai ‘legal system’nya.

Presiden Senegal saat ini adalah ABDOULAYE WADE (Senegalese Democratic Party/PDS), terpilih sejak tanggal 1 April 2000, menggantikan Abdou Diouf. Tantangan berat yang dihadapi oleh Abdoulaye Wade berasal dari para buruh, persaudaraan Islam, mahasiswa dan guru. Dan sebagai negara yang menganut paham demokrasi (multipartai), hal yang demikian dianggap sesuatu yang lumrah

Senegal pernah mengadakan konferederasi dengan negara tetangganya, GAMBIA ( Senegambia Trade Confederation), ketika Abdou DIOUF masih aktif sebagai Presiden (1980). Namun konfederasi ini mengalami kolaps pada tahun 1989. Bertepatan dengan itu, Senegal juga mengalami krisis berat ketika terjadi pemberontakan separatis Movement of Democratic Casamance Force (MDCF). Pemberontakan ini berakhir pada tahun 1993.

Penutup
Sudan dan Senegal adalah dua negara Muslim di Afrika yang masing-masing mempunyai ciri yang berbeda. Sudan sejak awal menganut paham Sunni, sedangkan di Senegal, Islam berkembang melalui pendekatan sufi/tarekat. Hal ini berbeda dengan Indonesia, di mana Islam berkembang melalui perdagangan dan pendekatan ‘budaya’.

Hubungan kedua negara tersebut dengan Indonesia cukup baik, karena memang ada persamaan keyakinan atau agama. Hanya bedanya, Sudan lebih aktif mengadakan hubungan bilateral dengan Indonesia yaitu adanya saling kunjung antara pejabat tinggi kedua negara. Secara riil, Sudan telah melangkah lebih jauh dalam hubungannya dengan Indonesia, yaitu menjadi sponsor dibukanya perguruan tinggi Islam bertaraf internasional di Malang.

Sedangkan Senegal ada sedikit ganjalan, walaupun tidak pada taraf yang ‘menegangkan’. Hal ini dikarenakan sejak tanggal 1 Juli 1975 almarhum Leopold Sedar Senghor, mantan Presiden Senegal (wafat tanggal 20 Desember 2001 di Perancis) memberikan dukungan atas kemerdekaan Papua Barat (OPM), dengan dibukanya ‘Information and Coordination Office of the Provisional Gobernment of the Republic of West Papua / New Guine’. Saat itu, Ben Tanggahma dan Saul Hindom yang menjadi dutanya. Senegal memandang bahwa ‘bangsa Papua adalah etnis yang termasuk bangsa Negroid’, oleh karena itu, mereka mendesak PBB agar OPM dikategorikan sebagai ‘National Liberation Movement’ seperti SWAPO di Namibia. Perwakilan OPM di Senegal ini berakhir pada tahun 1984.

Saat ini, Senegal telah berkembang ke arah yang lebih baik, khususnya hubungannya dengan negara-negara Islam, seiring dengan terpilihnya presiden yang berlatarbelakang Islam, baik mantan Presiden Senegal Abdou Diouf atau Prsiden Senegal sekarang, yaitu Abdoulaye Wade. Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim sebagaimana Senegal, mempunyai kesempatan luas untuk menarik simpati mereka dalam kasus-kasus bernuansa ‘etnis’ seperti Papua dan Ambon, yang suatu ketika dapat menjadi masalah internasional, dan dapat merepotkan Indonesia dalam tata pergaulan politik internasional (ingat: kasus Timor Timur).

*) Telah dimuat pada majalah Amanah No. 45 Thn. XVII Des 03

dari sini

About these ads

Posted on November 29, 2012, in Perkembangan Islam. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Sejak 16 Pebruari 2013

    HTML hit counter - Quick-counter.net
  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

    %d bloggers like this: