Mualaf Tionghoa Jadi Ustadz Salafi

Nama saya Fuk Meng dan nama panggilan Afu, lahir di Makassar tepatnya di jalan Buru kecamatan Wajo (kemudian selalu berpindah-pindah) pada tanggal 21 juli 1977 dari orang tua yang mengikuti aliran konfuchu. Kami 7 bersaudara dengan saya sebagai anak kelima dan anak tunggal laki-laki. Keadaan saya persis seperti yang beliau saw sabdakan “Setiap anak lahir diatas fitrahnya, tetapi dua orang tuanya yang menjadikan dia yahudi atau nashrani atu majusi”.

Hari-hari kecil hampir seharian terisi dengan kegiatan bermain di luar rumah disebabkan kesibukan bapak menjahit dan ibu jaga toko, mereka bukan dari keluarga yang memperhatikan dunia pendidikan, sedangkan teman-teman ada yang dari keluarga muslim dan mayoritas dari keluarga non muslim.

Memasuki umur 6 tahun saya disekolahkan di SDN Irian, Makassar. Untuk pelajaran agama saya mengikuti ajaran agama budha sebagaimana orang-orang china lainnya, karena konfuchu tidak diakui di Indonesia sebagai agama dan karena keserupaan antara dua kepercayaan ini.

Lalu saat kelas 5 SD kami pindah ke jalan Sibula Dalam kecamatan Bontoala di lingkungan yang mayoritas muslim namun masih perlu banyak perbaikan dalam amalan keislaman.

Setelah tamat dari SD saya masuk ke SMP Hang Tuah bersama dengan pindahan lagi walau di jalan yang sama, lalu karena bidang studi agama yang tersedia di Hang Tuah hanya Islam dan nashrani maka saya mengikuti pelajaran agama nashrani supaya tetap mendapatkan nilai, juga karena tidak adanya pengingkaran berarti dari pendeta terhadap aliran orang tua saya.

Selama tinggal di jalan Sibula Dalam saya lebih banyak bergaul dengan anak-anak muslim, apalagi di usia SMP, namun mereka masih jauh dari nilai-nilai keislaman; jarang shalat, terbiasa berjudi, minum khamar, senang berkelahi,……. bahkan pernah mencuri ayam saya (teman mereka sendiri) lalu setelah itu mereka bayar.

Awal Hidayah

Di usia remaja ini pergaulan saya boleh dikatakan dengan anak-anak nakal, namun alhamdulillah saya dikenal mereka dengan seorang yang polos lagi sangat jujur dan tidak pernah terlibat dengan kenakalan yang mereka lakukan.

Base champ kami di sebuah tempat pencucian mobil berjarak 5 rumah dari rumah saya. Tempat pencucian mobil ini sekaligus menjadi lahan mendapatkan kebutuhan ma’isyah teman-teman. Ia milik seorang bapak haji yang selalu shalat di awal waktu, lalu khusus ba’da zhuhur ia duduk mendengarkan siaran radio ceramah KH. Zainuddin MZ yang saat itu baru populer.

Semuanya berjalan tanpa sengaja, keadaan ini memberikan bias pada jiwa saya.
Setelah bias cahaya itu semakin membesar saya pun sering mencari gelombang siaran dakwah lewat radio itu dan mendengarnya di rumah, bapak-ibu setengah heran dengan apa yang saya buat, tapi mereka tidak menanggapi dengan serius karena bagi mereka asalkan tidak masuk Islam saja.

Tapi tidak lama waktu berlalu, secara diam-diam saya mempelajari Islam lewat buku dan saya sering memperhatikan Pesantren An Nahdlah yang tidak jauh dari tempat kami.
Di kelas III SMP menjelang ebtanas Allah memudahkan lisanku untuk mengucapkan dua kalimat syahadat di kamar yang hanya Dia-lah menjadi saksinya.

Kemudian untuk formalnya saya mendatangi rumah Pimpinan Pesantren itu (Drs. KH. Muh. Haritsah AS) menyatakan mau dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat. Kiyai takjub dengan usiaku saat itu yang baru 14 tahun lantas berani mengambil keputusan sendiri. Setelah menanyakan kepadaku beberapa hal, maka beliau pun menuntunku mengucapkan kalimat kunci keislaman lalu membuatkan surat pernyataan masuk Islam dengan saksi Bapak Abdul Majid Abdullah yang selain telah lama mengenaliku dengan nama Afu juga beliau salah seorang guru di pesantren tersebut.

Mendengar beliau memanggilku Afu maka Pimpinan Pesantren memberikan nama Islamku: Fuad. Cukup dengan membalikkan nama yang sudah ada seiring telah berbalikku dari agama kafir kepada keimanan.

Kisahku Mengerjakan shalat

Sebagaimana yang lalu saya ceritakan bahwa sebelum datang ke Pimpinan Pondok Pesantren An Nahdlah Makassar saya telah mengucapkan dua kalimat syahadat sendiri dengan Allah Al Ahad (Yang Maha Esa) sebagai saksinya. Ini saya lakukan dengan membaca lafazh latin dari syahadatain dari buku tuntunan shalat. Buku itu saya sembunyikan di lemari diantara pakaian milikku.

Saya pun senantiasa menelaah buku tersebut secara bersembunyi, sampai saya mengetahui bahwasanya hukum shalat lima waktu adalah wajib, berpahala bagi yang melakukannya dan berdosa / mengundang murka Allah bagi siapa yang meninggalkannya, shalat mempunyai syarat sah, rukun, wajib, dan sunnah. Saya pun mengetahui melalui melihat kebiasaan kaum muslimin dan melalui buku ini bahwa sebelum mengerjakan shalat kita diwajibkan berwudhu sebagai syarat sah shalat, demikian juga wajib sucinya pakaian dan tempat sebagai syarat sah shalat.

Waktu shalat tiba, saya berwudhu di rumah orang tua tanpa sepengetahuan mereka, saya sangat menjaga diri dari najis, khususnya bekas-bekas babi yang merupakan makanan istimewa orang tua yang tiada pekan tanpa makan babi. Setelah berwudhu saya masuk kamar kakak sebab saya sendiri tidak punya kamar khusus, menguncinya lalu mengerjakan shalat. Saya shalat sesekali dengan membaca tulisan latin dari bahasa arabnya, lebih sering menggunakan bahasa Indonesia, membaca terjemahan yang ada dibawah bacaan arabnya.

Diganggu jin

Hal yang baru pertama kali menjadi pengalaman hidupku, saat saya sedang shalat dalam kamar badan saya dibelokkan dari arah kiblat, itu di semua posisi shalat selain rukuk dan sujud. Saya ingin mengembalikan ke posisi yang benar tetapi tulang dalam tubuh terasa sakit, semakin saya berusaha untuk mengembalikan ke arah kiblat semakin sakit. Sedangkan saya mengetahui bahwa diantara syarat sah shalat harus menghadap kiblat. Mendapatkan keadaan begitu saya selalu mengulangi shalat karena anggapan shalat saya tidak sah sebab tidak menghadap kiblat, baik saat berdiri baca Al Fatihah (terjemahan), I’tidal, duduk diantara dua sujud, maupun tasyahhud.

Terus saya ulangi, sampai saya berkeyakinan bahwasanya Allah Maha Pemurah tidak akan membebaniku lebih dari kemampuanku. Sejak saat itu jikalau dalam shalat terjadi hal yang sama, bahkan seringkali dalam posisi tasyahhud badan berputar 80 derajat, tapi saya tetap teruskan.

Keadaanku ini saat itu tidak saya ceritakan kepada siapapun karena khawatir ketahuan masuk Islam.
Beberapa hari kemudian, seringkali ketika sedang berkumpul dengan teman-teman tiba-tiba saya menjadi pincang dalam berjalan, terutama menjelang maghrib, lalu normal kembali. Kalau saya sampaikan kepada seseorang yang saya harapkan bisa mengobati, malah leher saya dipermainkan oleh jin. Keadaan ini saya alami dua pekan sampai akhirnya berlalu dengan seizin Allah.

Awal terlihat sholat oleh manusia

Teman-teman yang muslim mengetahui saya shalat berawal dari saya membaca dari buku yang sama hukum shalat jum’at yang fardhu ‘ain dan hukuman Allah mengunci hati siapa yang meninggalkannya. Ini berarti orang lain akan tahu kalau saya mengerjakan shalat. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa harus mengambil resiko dibandingkan celaka di kehidupan yang kekal nanti. Sebisa mungkin saya memilih teman yang nampak taat melakukan shalat jum’at dan sekiranya bisa menjaga rahasia ini. Namun sesuai taqdir Allah sangat mudah ketahuan, karena teman ini membawa sajadah membonceng saya dengan motornya. Akhirnya pembicaraan dari mulut ke mulut mulai beredar.

Ketahuan Orang Tua

Seiring perjalanan waktu sesuai dengan taqdir Allah tanpa saya sadari ternyata orang tua sudah mulai curiga, mengawasi, sehingga akhirnya menangkap basah saya yang sedang shalat di kamar dengan mereka manjat dan mengintip dari lobang angin kemudian meneriakiku.

Saat itu masa-masa pertikaian antara saya dengan keluarga. Setelah sempat beberapa hari meninggalkan rumah orang tua menyuruh balik, namun keadaan sulit menghindari najis di rumah sangat berat maka saya memilih lebih banyak di masjid.

Mendapatkan kawan di masjid

Selama 1 tahun saya makan, minum, dan tidur tanpa menentu. Sesuai dengan rencana Allah saya dipertemukan dengan teman-teman yang baik di masjid; Muhammad Nur Maulana (sekarang aktif di kajian subuh TransTV), Burhanuddin, dan Amir Arafah. Muhammad Nur sempat mengajariku Iqra kira-kira 3 hari, sedangkan bersama Amir dan Burhanuddin saya sering bermalam di masjid.

Was-was Akibat Ketidak-fahaman

Saya telah membaca di buku itu tentang pentingnya niat sebagai penentu shalat, niat bentuknya kalimat yang dilafazhkan dalam hati, serta niat adalah rukun shalat. Dalam jangka waktu yang cukup lama bahkan di tengah jama’ah shalat di masjid seringkali saya mengulangi takbiratul ihram sampai dalam jumlah yang tidak terhitung lagi bahkan beberapa shalat saya melakukan takbiratul ihram dari awal waktu masuknya shalat sampai dengan masuk waktu shalat berikutnya masih saja saya ulang-ulangi.
Sebabnya karena rasa takut yang begitu extreme akan kesalahan hati dalam melafazhkan niat menyebabkan was-was atau keraguan yang begitu besar dalam hatiku, saya selalu ragu apakah lafazhnya sudah sempurna atau belum, saya takut rukun niat ini tidak terpenuhi maka akibatnya shalat tidak sah dan akibatnya berbahaya di akherat.

Was-was senantiasa berbisik kepadaku bahwa kebenaran niat meragukan, selanjutnya bisikan ragu apakah melanjutkan shalat atau mengulangi takbiratul ihram, selanjutnya keraguan ini digambarkan kepadaku sebagai keinginan untuk membatalkan shalat dengan mengulanginya, sedangkan telah diketahui bahwa niat membatalkan shalat termasuk pembatal shalat.

Was-was ini telah membawaku kepada kebodohan yang sangat memalukan. Namun akhirnya Allah menyelamatkanku dari was-was ini, diantaranya dengan pengetahuan bahwasanya niat itu bukanlah berbentuk lafazh layaknya kalimat yang disebutkan oleh lisan.

Perkembangan Keilmuan Islam-ku

Sudah kusebutkan bahwa masuk Islamku menjelang ebtanas SMP. Di masa libur panjang itu saya belajar Iqra sekitar 1 minggu dengan dua guru (Muh. Nur Maulana dan Sangkala) setelah itu saya belajar sendiri sampai akhirnya bisa dan menghafal Al Qur’an yang saya hadapkan juz-juz awal kepada Ust. Yahya, Ust. Abdul Aziz, dan KH. Utsman Arif (semoga Allah merahmati mereka semua).

Pengalaman yang begitu indah ketika Allah memberi saya kesempatan menghafal juz I hanya dalam 3 hari dan juz II dalam 4 hari dengan hafalan yang matang, lalu semakin bertambah hafalan semakin membutuhkan waktu yang panjang demi memuraja’ah yang sudah terhafal agar tetap terjaga.
Ketika tiba masa pendaftaran sekolah, Allah pun mentaqdirkan saya bertemu dengan bagian tata usaha Pesantren An Nahdlah (Ir. Kadir Kasse) sampai beliau menyuruhku mendaftar tanpa biaya pendaftaran maupun spp.

Ringkasnya, saya masuk tingkat aliyah. Masa awal yang membuat saya setiap hari terliputi rasa malu, karena bahkan bacaan Al Qur’an saya masih terputus-putus sedangkan di pesantren sangat banyak pelajaran yang menggunakan bahasa Arab.

Akhirnya semester I tiba dan hasil ujian semester keluar dengan saya mendapatkan rangking 2 dari belakang (23 dari 24 siswa). Namun alhamdulillah Allah senantiasa membimbingku, di semester II saya mendapatkan peringkat 18 dari 24 siswa.

Di kelas 2 aliyah, sesuai taqdir Allah di jalan setapak masjid tempat kegiatan belajar mengajar Pesantren An Nahdlah saya bertemu dengan pimpinan pesantrennya, beliau menanyakan makan, minum, dan tidurku, setelah mengetahui keadaanku maka beliau menyuruhku tinggal di rumahnya. Saya pun tinggal di rumah beliau sekitar 4 tahun. Jasa sangat besar yang tidak sanggup saya balas dan hanya Allah yang kuasa membalasnya, semoga Allah membalasi kebajikan beliau dengan sempurna.

Saya kembali, di kelas 2 aliyah, semester I saya di peringkat 12 dari 24 siswa, semester II di peringkat 8. Prestasi belajarku terus menanjak. Ada santri yang mengaku bahwa dirinya ditugaskan salah seorang guru untuk memantau saya dalam ujian apakah nyontek buku, tapi katanya ternyata tidak. Naik kelas 3 aliyah, semester I saya mendapatkan rangking 5, di semester terakhir mendapatkan rangking 2.
Selesai dari pesantren dengan ijazah MAN itu tahun 1995 saya melanjutkan pendidikan ke Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar atas saran KH. Muh. Haritsah yang sudah saya anggap seperti ayah sendiri. Satu tahun kuliah di fakultas Tafsir-Hadits kemudian saya ikut tes untuk mendapatkan beasiswa Universitas Al Azhar Cairo tahun 1996. Untuk wilayah propinsi Sul-Sel tes diadakan di IAIN Alauddin Makassar dengan jumlah peserta 80 orang.

Ringkasnya, setelah berlalu beberapa lama saya mendapatkan info kalau pengumuman hasil tes sudah keluar, saya ke IAIN dengan Drs. Amirullah Amri. Masuk ke ruang Tata Usaha IAIN saya pun bertanya, “Hasil tes sudah keluar?” Katanya, “Siapa namamu?” Jawab saya, “Fuk Meng”, kata dia, “Yang benar! Kok tidak putih?!”…….. Sambil sedikit mencandai akhirnya dia pun memberitahukan kelulusanku dengan nilai rata-rata 9,5 untuk 5 materi tes, menduduki rangking 1 diantara 10 orang yang dinyatakan lulus. Berita ini jadi heboh sampai ke tingkat kanwil, karena untuk pertama kalinya ada nama ‘aneh’ yang lulus bahkan di urutan 1.

Hatiku sangat senang Allah membukakan jalan thalabul ilmi, namun kemudian saya harus mendapatkan masalah besar karena status saya masih sebagai WNA (warga Negara asing) maka saya tidak diberikan pasport walau segala usaha yang kira-kira mampu saya lakukan telah saya tempuh. Saya sangat sedih, tapi tidak berputus asa. Saya urus kewarga-negaraan hingga akhirnya berhasil, tetapi telah terlambat 1 minggu dari tutupnya pendaftaran di Cairo.

Atas kemudahan dari Allah dan bantuan yang sangat besar dari Prof. DR. Abdurrahman Basalamah (Ketua Yayasan UMI, semoga Allah merahmati dan mensucikan rohnya) di tahun 1997 saya diizinkan ikut rombongan mahasiswa utusan ke Cairo tanpa tes lagi.

Aktifitas Menuntut ilmuku selama di Mesir

Secara formal saya kuliah di fakultas Syari’ah Islamiyah, sedangkan thalabul ilmi non formal saya lakukan dengan menimba ilmu dari Syaikh Usamah Al Qushi, Majdi Arafah, dan para syaikh Ansharussunnah Mesir. Mereka murid-murid dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Bin Baz, Al Albani, maupun Muqbil, semoga Allah merahmati mereka semua.

Kebiasaan saya setelah muqarrar (diktat) yang ditentukan dosen setiap materi telah keluar, saya membelinya, meringkas tidak lebih dari 10 halaman, kemudian lebih mengarahkan aktifitas kepada materi-materi lain di luar mata pelajaran kuliah. Sampai ujian tiba saya tidak tegang sebagaimana teman-teman, saya cukup menelaah kembali ringkasan yang dulu saya buat.

Alhamdulillah, setiap tahun saya naik ke tingkat selanjutnya. Di tingkat terakhir saya mengalami tashfiyah, yaitu harus mengulangi 2 materi, disebabkan jawaban saya menyelisihi pendapat dosen. Tapi alhamdulillah ujian susulan bisa saya selesaikan dengan baik. Saya lulus dari S1 Al Azhar dengan nilai jayyid pada tahun 2002.

Aktifitas setelah pulang ke Indonesia

Disebabkan kondisi, awal pulang dari Mesir saya sempat mengajar di beberapa tempat di Makassar dalam waktu yang hanya sebentar. Kemudian saya ke kampung isteri (Magelang) lalu mengajar di pondok pesantren/ma’had Darul Atsar Kedu Temanggung selama 3 tahun (alhamdulillah angkatan mereka saat ini telah menjadi para pengajar baik di pondok Darul Atsar sendiri maupun lainnya). Sambil mengajar di ma’had dengan jadwal yang cukup padat alhamdulillah Allah memudahkanku menerjemahkan sekitar 30 judul kitab berbahasa Arab yang diterbitkan oleh beberapa penerbit Salafiyyah.

Sekarang sudah lebih 4 tahun saya berada di Batam, selain aktifitas dakwah, berupa ceramah dan khutbah di masjid-masjid, saya membina yayasan Fursanul Haq yang memiliki kegiatan Home Schooling untuk setingkat TK, Tahfizhul Qur’an untuk remaja (insya Allah segera akan diasramakan diatas rumah saya), dan Pengkaderan Dai untuk dewasa. Semuanya ini saya dan keluarga tercinta jalankan di rumah yang sekaligus menjadi tempat tinggal kami yang sederhana dengan ukuran hanya 102 m2.

Keluargaku
Isteri : Endang Widyastutik (STAN, Mengajar TK dan Tahfizh)
Anak-anak : Aisyah (14 tahun, hafal 20 juz, ngajar ngaji dan TK)
Fatimah (11 tahun, hafal 10 juz, ngajar ngaji dan TK)
Ismail (8 tahun, hafal 3 ½ juz), Nafisah (5 tahun), dan Mulaikah (2 tahun).
Penutup

Alhamdulillah yang telah memberikan kita hidayah, tanpa hidayah-Nya kita tidak bisa melakukan apa-apa. Alhamdulillah yang semata dengan nikmat-Nya amal shaleh bisa sempurna.

Saya berterima kasih kepada semua yang telah berjasa padaku, khususnya orang tua saya (Chan Kok Ang dan Tjie A Beng), Drs. KH. Muhammad Haritsah beserta keluarga, Prof. DR. Abd. Rahman Basalamah, dan para syaikh Ahlussunnah. Semoga Allah memberikan hidayah Islam untuk dua orang tuaku dan kaum kerabatku yang hampir semuanya masih mempersekutukan Allah dengan aliran konfuchunya. Semoga Allah mengampuni kesalahan saya dan para guruku, mengumpulkan kami di surganya yang tertinggi bersama para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan shalihin. Semoga Allah merahmati kaum muslimin seluruhnya dan mengangkat kembali kaum muslimin dari keterjatuhannya.

dari sini

About these ads

Posted on Agustus 27, 2012, in Kisah Islami, Mualaf and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Alhamdulilah Saudaraku, bisa menuju jalan yang benar mudah-mudahan disusul dengan saudara-saudara yang lain, terutama oarang yang belum mendapatkan seperti Saudaraku ini, dan saya membaca kisah saudara, say jujur sampai meneteskan air mata, saking terharunya. terima kasih semoga Allah memberikan tafik dan hidayah kepada kita semua . Amin amin ya robbal “alamin. Wijianto Jakarta

  2. Subhanallah, …………….. alangkah indahnya kalau semakin banyak saudara2 kita WNI keturunan yang memeluk islam, …………………. meninggalkan keyakinannya yang lama, yang penuh dengan kemusyrikan (menyekutukan Allah dengan yang lainnya).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Sejak 16 Pebruari 2013

    HTML hit counter - Quick-counter.net
  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

    %d bloggers like this: